דלג לתוכן הראשי
Otak

Faktor Risiko Demensia yang Dapat Diubah

Sebuah studi pencitraan otak inovatif dari Universitas Oxford yang diterbitkan di Nature Communications meneliti 161 faktor risiko demensia yang dapat diubah, dan menemukan bahwa diabetes, polusi udara dari lalu lintas, dan alkohol adalah faktor yang terkait paling kuat dengan penyusutan area otak yang paling rentan terhadap penuaan.

⏱️5 Membaca menit ✍️Reverse Aging 👁️824 Tampilan

Studi inovatif yang baru-baru ini diterbitkan di Nature Communications mengungkap wawasan baru tentang faktor risiko demensia yang dapat diubah.
Tim peneliti dari Universitas Oxford, yang dipimpin oleh Profesor Gwenaëlle Douaud, meneliti 161 faktor risiko potensial menggunakan pemindaian otak dari lebih dari 40.000 peserta di UK Biobank, sebuah kelompok penelitian besar yang berbasis di Inggris.

Penting untuk memahami apa yang diukur oleh studi ini: Ini adalah studi pencitraan otak. Para peneliti mengukur volume materi abu-abu di jaringan otak tertentu yang sangat rentan terhadap penuaan dan penyakit seperti Alzheimer, jaringan yang dikenal sebagai LIFO (Last In, First Out, yaitu area yang berkembang paling akhir dan menyusut paling awal). Studi ini memberi peringkat 161 faktor risiko berdasarkan tingkat dampaknya terhadap penyusutan jaringan otak yang rentan ini. Studi ini tidak mengukur insiden demensia atau menghitung persentase risiko individu terkena demensia, melainkan meneliti seberapa kuat setiap faktor terkait dengan kesehatan area otak yang sensitif tersebut.

Temuan utama:

  • Diabetes: Ditemukan sebagai salah satu dari tiga faktor yang terkait paling kuat dengan penurunan volume materi abu-abu di jaringan otak yang rentan.
    Penyebabnya mungkin terkait dengan efek negatif kadar gula darah tinggi pada pembuluh darah dan saraf di otak.
  • Polusi udara: Polusi udara, terutama yang berasal dari emisi kendaraan (diukur menggunakan kadar nitrogen dioksida sebagai indikator perwakilan), ditemukan di antara tiga faktor terkuat yang terkait dengan penyusutan yang dipercepat di area otak tersebut.
    Para peneliti berpendapat bahwa polusi udara dapat menyebabkan peradangan di otak, kerusakan pembuluh darah, dan degenerasi saraf.
  • Konsumsi alkohol: Frekuensi konsumsi alkohol juga ditemukan di antara tiga faktor yang paling merusak jaringan otak yang rentan.
    Penting untuk ditekankan bahwa studi ini tidak menetapkan batas aman konsumsi alkohol dan tidak menunjukkan jumlah alkohol yang dapat dianggap tidak berbahaya.
  • Faktor gaya hidup: Studi ini termasuk dalam kerangka yang lebih luas dari 15 kategori faktor risiko, termasuk juga pola makan, aktivitas fisik, tidur, merokok, tekanan darah, kolesterol, berat badan, suasana hati yang buruk, dan kesepian sosial.
    Menjaga gaya hidup sehat, aktivitas fisik teratur, dan tidur yang cukup dianggap sebagai faktor pelindung kesehatan otak.
  • Variasi genetik: Selain faktor gaya hidup, studi ini mengidentifikasi tujuh kelompok genetik yang terkait dengan jaringan otak yang rentan, di antaranya gen golongan darah XG yang menonjol, yang terletak di area bersama kromosom seks.
    Namun, para peneliti mencatat bahwa besarnya dampak dari variasi genetik ini kecil, sehingga kontribusi langsungnya sederhana dibandingkan dengan faktor-faktor yang dapat diubah.

Dampak signifikan:

Studi ini menekankan pentingnya gaya hidup sehat dan lingkungan yang bersih untuk menjaga kesehatan otak dalam jangka panjang.
Temuan ini dapat berkontribusi pada pengembangan strategi pencegahan yang lebih efektif, serta peningkatan kualitas hidup dan harapan hidup sehat orang-orang dari segala usia.

Hubungan yang lebih luas dapat ditemukan dalam laporan Komisi Lancet tahun 2024 (badan terpisah dari studi saat ini), yang memperkirakan bahwa sekitar 45% kasus demensia dapat dicegah atau ditunda secara potensial melalui penanganan 14 faktor risiko yang dapat diubah sepanjang hidup. Perkiraan ini memperkuat pesan umum: pilihan gaya hidup dapat membuat perbedaan signifikan pada kesehatan otak.

Rekomendasi:

  • Menjaga berat badan ideal dan kadar gula darah normal.
  • Mengurangi konsumsi alkohol.
  • Aktivitas fisik teratur (setidaknya 150 menit per minggu).
  • Pola makan sehat dan seimbang, kaya akan buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian utuh.
  • Tidur yang cukup (7-8 jam).

Implikasi tambahan:

Selain dampak pada kesehatan otak, temuan studi ini memiliki implikasi tambahan:

  • Kebijakan publik: Studi ini menekankan perlunya kebijakan publik yang berfokus pada pengurangan faktor risiko yang dapat diubah. Ini dapat mencakup langkah-langkah seperti:
    • Membatasi polusi udara
    • Mempromosikan gaya hidup sehat
    • Meningkatkan kesadaran tentang faktor risiko demensia
  • Penelitian medis: Studi ini membuka jalan menuju masa depan di mana timbulnya demensia dapat dicegah atau ditunda secara signifikan. Penelitian dan eksplorasi lebih lanjut akan membantu kita lebih memahami faktor-faktor penyakit dan mengembangkan perawatan yang lebih efektif.
  • Perawatan dan keperawatan: Temuan ini menekankan perlunya meningkatkan layanan perawatan dan keperawatan bagi penderita demensia dan keluarga mereka.

Tantangan masa depan:

Meskipun ada kemajuan signifikan, masih banyak tantangan dalam penelitian dan perawatan demensia:

  • Memahami mekanisme biologis: Masih belum sepenuhnya jelas bagaimana berbagai faktor risiko mempengaruhi perkembangan demensia.
    Pemahaman yang lebih mendalam tentang mekanisme biologis yang terlibat dapat membantu dalam mengembangkan perawatan yang lebih efektif.
  • Pengembangan perawatan: Meskipun ada banyak perawatan farmasi, mereka tidak berhasil menyembuhkan penyakit atau menghentikan perkembangannya.
    Diperlukan pengembangan perawatan baru yang lebih efektif.
  • Peningkatan kualitas hidup: Penderita demensia dan keluarga mereka membutuhkan banyak dukungan di sepanjang perjalanan.
    Diperlukan peningkatan layanan perawatan dan keperawatan, serta pengembangan teknologi baru yang akan membantu penderita demensia mempertahankan kemandirian dan kualitas hidup mereka.

.
Referensi:
https://www.nature.com/articles/s41467-024-46344-2

💬 Komentar (0)

Untuk merespons, Anda memerlukan akun. Tulis komentar Anda dan klik Publikasikan, dan Anda akan diarahkan ke pendaftaran cepat. Komentar akan disimpan dan dipublikasikan setelah disetujui.

Jadilah orang pertama yang mengomentari artikel tersebut.

Apakah Anda menikmati situs ini? Beri tahu teman-teman 🙌 Tidak menikmatinya? Beri tahu kami dan kami akan memperbaikinya 💬

💬 Ceritakan kepada kami